Jumat, 22 November 2013

Agenda Nopember 2013


Mohon do'a Teman seluruh Indonesia dan penjuru alam.
Insya Alloh Tanggal 23 Nopember 2013, musyawarah dua bulanan Sangatta Kutai Timur Kalimantan Timur.
Minggu, 24 Nopember 2013, Jord Masturoh di Sangatta Kutai Timur Kalimantan Timur.

Senin, 18 November 2013

Sifat Para Sahabat Yang Keenam



Sifat para Sahabat Radiallohu Anhum Ajmain yang keenam adalah Khuruj Fi Sabilillah untuk tujuan dakwah dan tabligh, artinya keluar dijalan Alloh SWT untuk tujuan mengajak dan menyampaikan. Adapun maksud dan tujuannya yang pertama adalah untuk memperbaiki diri, dan yang kedua mengajak umat agar mau menghidupkan usaha agama agar hidayah tersebar ke seluruh alam.
Fadzilah atau keuntungan dari Khuruj Fi Sabilillah ini banyak dijelaskan dalam Al-Qur'an diantaranya:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"(QS. Fushilat: 33)
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan."(QS. At-Taubah: 20)
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ
"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong."(QS. Al-Hajj: 78)
Sedangkan hadis-hadis yang menjelaskan tentang fadzlah Khuruj Fi Sabilillah banyak, diantaranya:
"Barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya."(HR. Abu Dawud)
"Sesungguhnya sepagi sepetang keluar di jalan Alloh SWT lebih baik dari dunia dan seluruh isisnya."(HR. Bukhari)
"Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya, jika tidak mampu denagn hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman."(HR. Muslim)
Bagaimana agar sifat ini ada dalam hati dan menjadi sifat kita?
Pertama, Dakwahkan selalu pentingnya keluar di jalan Alloh SWT untuk kerja dakwah dan tabligh.
Kedua, Meluangkan waktu keluar dijalan Alloh SWT sekurang-kurangnya empat bulan seumur hidup, empat puluh hari dalam setiap tahun dan tiga hari setiap bulan, serta dua setengah jam setiap hari.untuk kerja da'wah dan tabligh.
Ketiga, Selalu berdo'a kepada Alloh SWT agar kita diberi kekuatan dapat istiqomah menjalankan usaha yang mulia ini.
Keempat, Usahakan agar selalu hadir pada malam perhimpunan, malam musyawarah di markas da'wah untuk menyatukan hati dan fikir, serta siap ambil takaza / keperluan tugas-tugas da'wah. Insya Alloh semua siap ambil bagian.

Sifat Sahabat Yang Kelima


Sifat para Sahabat Radiyallohu Anhum Ajmain yang kelima adalas Tash Hihun Niyyah yang artinya memperbaiki atau membetulkan niat. Maksud dan tujuannya adalah bagaimana agar kita selalu menjaga niat dalam setiap amal hanya untuk mencari keridhoan Alloh SWT.
Fadzilah atau keuntungannya dari sifat Tash Hihun Niyyah banyak dijelaskan dalam Al-Qur'an diantaranya:
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS. Al Bayyinah: 5)
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلأنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).(QS. Al Baqarah: 272)
أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.(QS. Az Zumar: 3)
Sedangkan hadis hadis yang menjelaskan tentang keutamaan sifat Tash Hihun Niyyah diantaranya:
"Ikhlas itu adalah rahasia dari rahasia-rahasia-Ku. Aku simpan dalam hati seseorang yang aku cintai." (Hadis Qudsi)
"Sesungguhnya Alloh SWT tidak memandang kepada rupamu dan hartamu, tetapi Alloh SWT memandang kepada hati dan amalmu." (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a)
"Sesungguhnya Allloh SWT tidak menerima suatu amal kecuali yang disertai keikhlasan dan semata-mata mengharapkan keridhoan-Nya" (HR. Nas'i dari Abu Umamah al Bahili r.a)
Bagaimana agar sifat ini bisa masuk kedalam hati dan menjadi sifat kita? Pertama, Dakwahkan selalu pentingnya ikhlas dan memperbaiki niat.
Kedua, Berusaha selalu mengontrol niat kita sebelum beramal, sedang beramal, dan setelah beramal.
Ketiga, Selalu berdo'a kepada Alloh SWT memohon agar diberi sifat Tash Hihun Niyyah.

Minggu, 17 November 2013

Sifat Para Sahabat Yang Keempat


Sifat para Sahabat Rodiyallohu Anhum Ajma'in yang keempat adalah Ikramul Muslimin. Artinya memulyakan sesama muslim. Maksud dan tujuannya dari sifat ini adalah bagaimana agar kita bisa meniru kebiasaan para sahabat yang selalu menunaikan hak-hak sesama muslim dengan tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan jasa.
Fadzilah atau keuntungan dari sifat ikramul muslimin dijelaskan dalam beberapa ayat Al Qur'an diantranya:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.(QS. Al Hasyr: 9)
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. Ali Imran: 134)
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(QS. Al Ahzab: 58)
Sedangkan dalam beberapa hadis dijelaskan fadzilah sifat ikramul muslimin diantaranya;
"Tidak beriman sesorang diantara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari)
"Barang siapa menutupi aib saudaranya sesama muslim, maka Alloh SWT menutupi aibnya didunia dan akhirat" (HR. Muslim)
"Alloh SWT senantiasa akan menolong hambanya-Nya, selagi hamba-Nya mau menolong saudaranya" (HR. Muslim)
Bagaimana agar sifat ini bisa masuk kedalam hati dan menjadi sifat kita?
Pertama, dakwahkan sifat ikramul muslimin.
Kedua, memulyakan para ulama, menghormati yang tua, menghargai yang sebaya dan menyayangi anak-anak.
Ketiga, membiasakan memberi salam kepada orang lain, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal.
Keempat, selalu berdo'a kepada Alloh SWT memohon agar diberi sifat Ikromul Muslimin.

Sifat Para Sahabat Yang Ketiga


Sifat para Sahabat Rodiyallohu Anhum Ajmain yang ketiga adalah ilmu ma'a dzikir. Ilmu artinya segala petunjuk yang datangnya dari Alloh SWT melalui baginda Rasululloh SAW. Sedangkan dzikir artinya mengingat Alloh SWT dengan segala ke Agungan-Nya. Maksud dan tujuannya adalah bagaimana kita mngamalkan perintah dan larangan-Nya serta selalu berusaha menghadirkan ke Agungan Alloh SWT dalam setiap suasana dan keadaan yang dicontohkan Rasululloh SAW.
Fazdilah dari sifat ilmu ini banyak dijelaskan dalam Al-Qur'an, diantaranya:
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
"Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." ( QS. Thaahaa: 114)
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
"Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Faathir: 28)
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az Zumar : 9)
Sedangkan hadis-hadis yang menjelaskan fadzilah dari sifat ilmu diantaranya:
"Apabila Alloh SWT menghendaki kebaikan pada diri seseorang, maka Alloh SWT memberikan kefahaman agama kepadanya" (HR. Bukhari dan Muslim)
"Barang siapa yang meringankan langkahnya untuk menuntut ilmu, maka Alloh SWT akan ringankan langkahnya menuju SURGA"
"Barangsiapa mengajarkan kebaikan, maka semua (makhluk) akan mendoakan keampunan kepadanya, sampai-sampai (tidak terkecuali) ikan-ikan yang berada didalam lautan (juga turut mendoakannya)
Adapun fadzilah dzikir dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur'an sebagai berikut:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. Ar Ra'd:28)
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al Baqarah : 152)
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلا
Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.(QS. Al Muzamil: 8)
Adapun hadis-hadis yang menjelaskan fadzilah dzkir diantaranya:
"Berdzikir (ingat) kepada Alloh SWT adalah kesembuhan bagi hati (penawar duka. (HR. Dailami melalui Anas ra)
"Perumpamaan orang yang mengingat Alloh SWT dan orang yang tidak mengingat Alloh SWT, bagaikan orang hidup dan orang mati." (HR. Bukhari dari Abu Musa r.a.)
"Apabila kalian melewati taman-taman surga maka nikmatilah."Para sahabat bertanya:"Apakah taman-taman surga itu? Nabi SAW menjawab: "Halaqah-halaqah (majlis-majlis) dzikir." (HR, Tirmidzi)
Bagaimana agar sifat ilmu ma'a dzikir ini bisa masuk kedalam hati dan menjadi sifat kita?
Pertama, dakwahkan tentang pentingnya ilmu m'a dzikir.
Kedua, memperbanyak duduk dalam halaqoh ta'lim masa'il maupun fadza'il dan majelis dzikir.
Ketiga, menghidupkan dzikir pagi dan petang secara istiqomah.
keempat, senantiasa berdo'a kepada Alloh SWT memohon agar diberi sifat ilmu ma'a dzikir.

Sifat Para Sahabat Yang Kedua


Sifat para sahabat yang kedua adalah Shalatul Khusyu' Wal Khudu' artinya shalat yang diiringi konsentrasi batin dan sikap merendahkan diri di hadapan Alloh SWT. Maksud dan tujuannya adalah bagaimana agar sifat-sifat ketaatan kepada Alloh SWT yang ada dalam shalat menjadi ketaatan kepada Alloh SWT dalam kehidupan sehari-hari.
Fadzilah atau keuntungan dari sifat ini di jelaskan dalam beberapa ayat al-qur'an diantaranya:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Al Ankabut:45)
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,(QS. Al Baqarah:45)
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.(QS. Ibrahim:40)
Sedangkan hadis-hadis yang menjelaskan keuntungan sifat shalat ini banyak sekali, diantanya:
"Kunci Surga adalah Shalat, sedangkan kunci Shalat adalah ber wudhu"
"Barang siapa yang Sholat pada dua waktu dingin dijamin masuk Surga" (HR. Bukhari Bab Keutamaan Sholat Subuh, Hadist no:574)
"Pertama kali amal seorang hamba yang akan di hisab pada hari kiamat adalah sholatnya, Apabila sholatnya baik, baik pula seluruh amalnya, dan apabila shalatnya rusak, rusak pula seluruh amalnya".(HR. Thabrani)
Bagaimana agar sifat ini bisa masuk kedalam hati dan menjadi sifat kita?
Pertama, Dakwahkan tentang sholat khusu' wal khudu'
Kedua, Menjaga sholat lima waktu secara berjama'ah, di awal waktu dan di tempat azan dikumandangkan (dimasjid), serta menghidupkan sholat-sholat nawafil.
Ketiga, belajar yakin menyelesaikan masalah dengan sholat.
Keempat, selalu berdo'a memohon kepada Alloh SWT agar diberi sifat Sholat khusu' wal khudu'

Sifat Para Sahabat Yang Pertama:


Para Sahabat RA meiliki sifat iman dan yakin yang smpurna terhadap kalimat Laa Ilaaha Illallah, artinya tiada ilah yang patut di sembah kecuali Alloh. Mereka menyadari benar maksud kalimat ini adalah agar mereka mampu mengeluarkan semua kebesaran makhluk dari dalam hati sehingga bersemayam di hati mereka hanyalah kebesaran Alloh SWT.
Fadzilah atau keuntungan dari kalimat ini dijelaskan dalam Al-Quran diantaranya.
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.(QS. Muhammad: 19)
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku"(QS.Al-Anbiya':25).
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS.Al-Anam:82)
Sedangkan hadis hadis yang menjelaskan fadzilah atau keuntungan kalimat Laa Ilaaha Illallah diantaranya:
"Barang siapa yang akhir ucapannya Laa Ilaaha Illallah, pasti masuk surga" (HR. Hakim)
"Barang siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dengan ikhlas (dari dalam hatinya) pasti masuk SURGA". Ada sahabat yang bertanya: " Bagaimana Ikhlasnya?" Beliau Bersabda: "Hendaknya engkau jauhi semua yang diharamkan Alloh SWT."(HR. Thabrani)
"Perbaharuilah iman iman kalian. Salah seorang sahabat bertanya: "Bagaimana cara memperbaharui iman-iman kami, ya Rasululloh? Beliau bersabda: " Perbanyak membicarakan kalimat Laa Ilaaha Illallah." (HR. Ahmad)
Bagaimana agar sifat iman dan yakin terhadap kalimat Laa Ilaaha Illallah ini masuk kedalam hati kita ?
Pertama, dakwahkan dan perbanyak membicarakan pentingnya kalimat Laa Ilaaha Illallah
Kedua, berlatih dengan membentuk halaqah yang didalamnya banyak membicarakan iman.
Ketiga, selalu berdoa memohon kepada Alloh SWT agar diberi hakikat iman
Para sahabat RA juga memiliki sifat Muhammadur Rasululloh, artinya Muhammad adalah utusan Alloh. Mereka yakin benar bahwa untuk mencapai maksud dan tujuan kebahagian dunia dan akhirat hanya bisa dicapai dengan mengikuti cara hidup baginda Rasululloh SAW.
Sedangkan fadzilah atau keuntungannya dari sifat ini di jelaskan dalam Al-Qur'an diantaranya:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran:31)
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".(QS, Yusuf : 108)
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al Ahzb:21)
Mengenai hadis-hadis yang menjelaskan fadzilah atau keuntungan sifat Muhammadur Rasululloh diantaranya:
"Tidak beriman salah seorang diantara kalian sebelum hawa nafsunya mengikuti agama yang aku bawa."
"Barangsiapayang menghidupkan sunnahku sungguh ia mencintaiku, dan barangsiapa mencintaiku maka ia akan bersamaku di Surga"
"Semua ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan." Mereka bertanya " Wahai Rasululloh, siapakah yang enggan? Beliau menjawab "Barang siapa taat kepadaku ia akan masuk surga dan barang siapa yang menentangku berarti ia enggan".
Bagaimana agar sifat ini masuk kedalam hati dan menjadi sifat kita?
Pertama, dakwahkan tentang pentingnya sunnah Rasulullah SAW.
Kedua, latihan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari hari
Ketiga, Senantiasa berdo'a kepada Alloh SWT agar diberikan sifat Muhammadur Rasululloh.

Hawa Nafsu


قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
Dari Abu Muhammad Abdulloh bin Amr bin Al-Ash rodhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa” (hadits hasan sahih yang kami riwayatkan dari Kitabul Hujjah dengan sanad yang sahih)
Penjelasan: Hadits ini adalah hadits yang terkenal dan hadits ini terdapat dalam Kitab At-Tauhid. Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa”. Hadits ini berderajat hasan sebagaimana yang dihasankan Imam Nawawi di sini. Bahkan beliau berkata ini adalah hadits yang hasan shahih.
Hadits ini dikatakan sebagai hadits hasan karena hadits ini sesuai dengan makna ayat Al Quran yaitu:
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS An Nisaa: 65)
Menganggap sebuah hadits memiliki derajat hasan karena memiliki makna yang sesuai dengan ayat Al Quran adalah mazhab yang dianut oleh banyak ulama terdahulu seperti Ibnu Jarir Ath Thobari dan sebagian ulama dan imam ahli hadits.
Perkataan nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits ini: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa” memiliki makna bahwa keimanan yang sempurna tidak akan terwujud sampai hawa nafsu dan harapan seseorang mengikuti apa yang dibawa oleh Al Musthofa (nabi Muhammad) shalallahu ‘alaihi wa salam. Hal ini juga bermakna bahwa seseorang wajib mendahulukan kehendak Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan dengan kehendaknya serta mendahulukan syariat Rosululloh shalallahu ‘alaihi sallam dari pada hawa nafsunya. Jika terdapat pertentangan antara harapannya dengan sunnah, maka dia akan mendahulukan sunnah. Hal ini telah dijelaskan pada banyak ayat Al Quran dan hadits, seperti firman Alloh jalla wa ‘ala:
Katakanlah: “Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS At Taubah: 24)
Maka seseorang wajib untuk lebih mencintai Alloh dan Rosul-Nya dibandingkan selain keduanya. Jika seseorang sudah berbuat demikian, maka hawa nafsunya sudah mengikuti apa yang dibawa oleh Al Musthofa shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka makna perkataan Rosululloh shalalahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian” adalah meniadakan kesempurnaan keimanan yang wajib. Makna ini adalah makna zhohir yang sesuai dengan kaidah yang telah kita pelajari sebelumnya. Pembicaraan tentang hal ini secara lebih lengkap terdapat dalam penjelasan Kitab At Tauhid.

Selasa, 12 November 2013

Puasa Asyura


Salamah ibnul Akwa' r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. mengutus seseorang untuk mengumumkan kepada manusia pada hari Asyura, (dalam satu riwayat: Beliau bersabda kepada seorang laki-laki dari suku Aslam, "Umumkanlah kepada kaummu atau kepada masyarakat 8/136) bahwa orang yang sudah makan bolehlah ia meneruskannya atau hendaklah ia berpuasa pada sisa harinya. Sedangkan, yang belum makan, maka janganlah makan." (Dalam satu riwayat: "Hendaklah ia berpuasa, karena hari ini adalah hari Asyura.")
Humaid bin Abdurrahman mengatakan bahwa ia mendengar Mu'awiyah bin Abu Sufyan r.a pada hari Asyura, pada tahun haji, berkata di atas mimbar, "Wahai penduduk Madinah, manakah ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah bersabda, 'Ini adalah hari Asyura dan tidak diwajibkan mengerjakan puasa atasmu. Tetapi, aku berpuasa. Barangsiapa yang menghendaki puasa, bolehlah berpuasa. Barangsiapa yang tidak menghendaki berpuasa, maka boleh tidak berpuasa.
Ibnu Abbas r.a. berkata, "Nabi tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka, beliau bertanya, 'Apakah ini?' Mereka menjawab, 'Hari yang baik (dalam satu riwayat hari besar 4/126). Ini adalah hari yang Allah pada hari itu menyelamatkan bani Israel dari musuh mereka. (Dalam satu riwayat: Hari yang pada saat itu Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israel atas musuh mereka). Maka, Musa berpuasa pada hari itu sebagai pernyataan syukur kepada Allah, (dan kita berpuasa pada hari itu untuk menghormatinya' 4/269). Beliau bersabda, 'Aku lebih berhak (dalam satu riwayat: 'Kita lebih lebih layak) terhadap Musa daripada kamu sekalian (kaum Yahudi).' Lalu, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan berpuasa pada hari itu." (Dalam riwayat lain: "Kalian lebih berhak terhadap Musa daripada mereka (kaum Yahudi), maka berpuasalah kalian." 5/212)

Kamis, 24 Januari 2013

Kewajiban Mengikuti Sunnah


Penulis: Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhohulloh Diterjemahkan dari Penjelasan Hadits Arba’in No. 41 Oleh: Abu Fatah Amrulloh Murojaah: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar
Dari Abu Muhammad Abdulloh bin Amr bin Al-Ash rodhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa” (hadits hasan sahih yang kami riwayatkan dari Kitabul Hujjah dengan sanad yang sahih)
Penjelasan: Hadits ini adalah hadits yang terkenal dan hadits ini terdapat dalam Kitab At-Tauhid. Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa”. Hadits ini berderajat hasan sebagaimana yang dihasankan Imam Nawawi di sini. Bahkan beliau berkata ini adalah hadits yang hasan shahih.
Hadits ini dikatakan sebagai hadits hasan karena hadits ini sesuai dengan makna ayat Al Quran yaitu:
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS An Nisaa: 65)
Menganggap sebuah hadits memiliki derajat hasan karena memiliki makna yang sesuai dengan ayat Al Quran adalah mazhab yang dianut oleh banyak ulama terdahulu seperti Ibnu Jarir Ath Thobari dan sebagian ulama dan imam ahli hadits.
Perkataan nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits ini: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa” memiliki makna bahwa keimanan yang sempurna tidak akan terwujud sampai hawa nafsu dan harapan seseorang mengikuti apa yang dibawa oleh Al Musthofa (nabi Muhammad) shalallahu ‘alaihi wa salam. Hal ini juga bermakna bahwa seseorang wajib mendahulukan kehendak Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan dengan kehendaknya serta mendahulukan syariat Rosululloh shalallahu ‘alaihi sallam dari pada hawa nafsunya. Jika terdapat pertentangan antara harapannya dengan sunnah, maka dia akan mendahulukan sunnah. Hal ini telah dijelaskan pada banyak ayat Al Quran dan hadits, seperti firman Alloh jalla wa ‘ala:
Katakanlah: “Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS At Taubah: 24)
Maka seseorang wajib untuk lebih mencintai Alloh dan Rosul-Nya dibandingkan selain keduanya. Jika seseorang sudah berbuat demikian, maka hawa nafsunya sudah mengikuti apa yang dibawa oleh Al Musthofa shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka makna perkataan Rosululloh shalalahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian” adalah meniadakan kesempurnaan keimanan yang wajib. Makna ini adalah makna zhohir yang sesuai dengan kaidah yang telah kita pelajari sebelumnya. Pembicaraan tentang hal ini secara lebih lengkap terdapat dalam penjelasan Kitab At Tauhid.
Sumber: http://muslim.or.id/?p=443

Senin, 07 Januari 2013

KECELAKAAN, INFLASI HUKUM & REFORMASI Hukum, sebuah sudut pandang.


Sejak beberapa hari terakhir, media TV, cetak dan online berasik masuk mengkabarkan berita kecelakaan yg di alami Rasyid yang kebetulan adalah anak Pak Hatta Rajasa, Menko Ekonomi dan juga besan Presiden SBY.
Info info yang disajikan lebih condong dengan bumbu jargon "kesetaraan hukum", kecurigaan akan adanya perlakukan khusus, dan ujian pada polisi , apakah hanya berani tajam ke bawah dan akan tumpul bila ke atas? dll, dll.
Sebelum membahas tentang segala tetek bengek hukum dengan issue lain yg mengiringinya. Perlulah kiranya membahas pokok persoalanya yaitu "KECELAKAAN LALU LINTAS".
“Kecelakaan”, dan apapun identitas di belakangnya : lalulintas, kerja, dll. Sifat dasarnya seperti iklan minuman ringan yaitu kapan saja, di mana saja dan siapa saja bisa mengalaminya. Tak peduli anaknya kopral atau jenderal, tak peduli orang tak punya atau berada. Ngak usah jauh-jauh kegiatan sehari-hari dirumahpun misal makan, mandi, tidurpun bisa mengalami kecelakaan.
Kemarin sore saya melihat berita Trans TV , ada anak 5 tahun meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit penyebanya karena si anak tersedak buah rambutan, saat makan dia lihat cicak dan tertawa yang akhirnya maut menjemputnya.
Kecelakaan lalu lintas penyebabnya sangat beragam bisa jadi karena faktor manusia (pengemudi), faktor kendaraan, factor jalan dan faktor lingkungan. Teknisnya lebih beragam misal lelah, mengantuk, tidak konsentrasi, mabuk, rem blong, menghindari lubang jalan, jalan licin, cuaca, dan yg sering saya dengar adalah karena menghindari pengedara lain lalu menubruk korban, dll.
Bila saya atau anda berkendara di jalan dan mengalami kecelakaan yang menyebabkan luka parah atau kematian korban, apapun penyebabnya, hampir pasti tanggungjawabnya adalah pada pengemudinya.
Lalu apa sanksinya?
Merujuk pada UU no 22/2009 ttg lalu lintas pasal 310 mengatur bahwa kelalaian pengendara saat kecelakaan sanksinya tergantung dari dampak kecelakaanya yaitu yg mengakibatkan:
1. Kerusakan kendaraan / barang saja : Pidana penjara 6 bulan dan denda 1 juta.
2. Kendaraan / barang rusak plus korban luka ringan : Pidana penjara 2 tahun dan denda 2 jt.
3. Kendaraan / barang rusak plus korban luka berat : Pidana penjara 5 tahun dan denda 10 jt.
4. Kendaraan / barang rusak plus korban meninggal : Pidana penjara 6 tahun dan denda 12 jt.
Jadi tanggungjawab pengendara mencakup bantuan biaya perobatan, ganti rugi, pidana dan denda. Bantuan perobatan dan ganti rugi terkait kepentingan keluarga korban, dan ini bisa diputuskan di pengadilan atau di luar pengadilan (pasal 236). Ganti rugi tidak mengugurkan tuntutan pidana. Sekali lagi saya tulis ulang “TUNTUTAN PIDANA nya TIDAK GUGUR”.
Sedangkan tuntutan PIDANA dan DENDA terkait dengan kepentingan NEGARA, dimana dengan UU tsb, NEGARA telah menyatakan kelalaian / kecelakaan di jalan raya itu sebagai perbuatan PIDANA (“Kejahatan”), doktrinya setiap perbuatan PIDANA (“Kejahatan”) harus di hukum.
PIDANA banyak macam definisinya, salah satunya di definisikan sebagai tindak kriminal atau segala sesuatu yang melanggar hukum atau sebuah tindak kejahatan. Perbuatan PIDANA sering dibedakan dalam 2 hal utama yaitu
1. ADUAN misal perzinaan, pencemaran nama baik, penghinaan, dll. Seorang yang terbukti berzina dengan orang lain tidak bisa diproses polisi tanpa adanya aduan dari pihak korban dalam hal ini adalah istri / suami sah nya yang jadi korban.
2. BIASA (Pidana MURNI) misal mencuri, merampok, membunuh, dll. Artinya ada aduan atau tidak ada aduan, Polisi berhak serta wajib memproses hukum semua tindakan PIDANA MURNI. Mengapa begitu? Karena pidana murni itu korbanya adalah si korban sendiri dan juga masyarakat (negara). Seorang yang mencuri / membunuh / merampok, walaupun keluarga korban ikhlas dan mau damai, negara tetap memprosesnya, karena masyarakat (negara) juga jadi korban yaitu tindakan pembunuhan itu mengancam nilai kemanusiaan, norma dan ketentraman masyarakat. Menciptakan keamanan dan ketentraman masyarakat adalah tugas utama NEGARA yang dilaksanakan oleh aparatnya yang disebut pemerintah.
Kecelakaan lalu lintas itu masuk pidana apa? Hemat saya kalau mencermati “letter lex” UU lalu lintas masuk PIDANA MURNI.
Kalau begitu, semua yang mengalami (kelalaian) kecelakaan lalu lintas, harus masuk penjarakah? Ya, begitulah kata hitam putih UU.
Dengan pemahaman di atas, saya jadi bertanya pada diri sendiri. Benarkah masyarakat menghendaki bahwa sopir yang (lalai atau apes) kecelakaan lalu lintas adalah PENJAHAT dan harus di penjara?
Kalau pencurian, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, saya yakin 100% kita sudah sepakat bahwa pelaku itu adalah penjahat asli, karena tindakan itu disertai dengan niat, kesengajaan dan kemampuan. Walaupun pencurinya mengembalikan barang atau ganti rugi, masyarakaat semua mayoritas tetap berharap, agar pelakunya di penjara agar sadar, kapok dan tobat.
Namun kalau sopir yang lagi apes taruhlah karena ban meletus lalu menubruk orang, tak sadar mengantuk beberapa detik, atau karena menghindari lubang yang bisa mencelakakan atau menghindari pejalan kaki yang nylonong lalu menabrak pengguna jalan lain. Apakah benar sopir itu PENJAHAT? Apalagi sopir tersebut langsung menolong korbanya, dan bertangungjawab penuh dari dampak akibat tabrakan tersebut baik secara empati dan finansial.
Mari kita melihat dari berbagai sudut pandang. Seandainya pelaku tabrakan tersebut adalah keluarga kita, setelah kita bertanggungjawab dan betul betul damai dengan keluarga korban, apakah kita tidak akan melakukan upaya agar terbebas dari penjara?
Dan seandainya, kita keluarga korban, setelah pihak sopir yang menabrak bukan karena kesengajaan tsb, mereka berempati dan bertanggungjawab penuh, apakah kita masih ngotot dan perlu pelakunya di penjara?
Bagi negara, apa untungnya mempejarakan? Apakah untuk efek jera dan agar timbul kesadaran pelaku. Menabrak orang, punya urusan serta harus mengganti rugi, sudah sangat sangat membuat sang sopir jera.
Kesadaran? Tanpa ada kecelakaan itupun sang sopir sadar dan tak ingin terjadi kecelakaan. Efek sadar atau tobat, itu diperlukan bila memang ada faktor niat atau kemauan, sedangkan dalam khasus kecelakaan murni (apes), semua sopir di dunia ini tidak ada yang ingin berniat untuk mencelakaan korban. Lain soal kalau kecelakaan karena adanya faktor pendukung niat misal mabuk dan memakai norkoba, dimana saat sopir akan menggunakan narkoba dan minuman keras, dalam keadaan sadar, tahu konsekuensi yang bisa terjadi termasuk kesadaran menurun, menabrak orang, dll.
Seandainya UU itu dijalankan hitam putih, apa yang akan terjadi bagi NEGARA?
Kompas pada tgl 12 Feb 2012, memberitakan kematian akibat kecelakaan per tahun adala 32.000. Dan tentu juga ada kecelakaan yg tidak menyebabkan meninggal, taruhlah misalnya kejadianya adalah 50% nya, maka sopir yang harus masuk penjara setiap tahunya adalah sekitar 16.000 orang.
Andai rata rata vonis hukumanya 2,5 tahun, di kurangi remisi maka setiap tahun negara harus menyediakan penjara yang harus memuat untuk sekitar 30.000 orang, dan membiayai makannya.
Bagaimana di pandang dari sudut sosial masyarakat . Bagaimana bila sang sopir adalah tulang punggung keluarga yang punya banyak anak kecil, tentu kehidupan keluarga tersebut berpotensi lebih buruk dan potensi terpapar permasalahan sosial dikemudian hari bagi sang anak-anak akan lebih tinggi bila kepala rumah tangganya di penjara.
Dari sudut pandang produktivitas, masyarakat akan kehilangan produktivitas sang sopir yang bisa jadi dia adalah orang alim, orang disiplin, ilmuwan, pembayar pajak yang taat, anak muda yang masih harus menyongsong masa depan, atau seorang ayah yang menjadi tulang punggung banyak anak-anaknya, karena kecelakaan akibat faktor di luar kendali sang sopir bisa menimpa siapa saja.
Saya pribadi memandang menggolongkan KECELAKAAN LALU LINTAS dalam PIDANA MURNI adalah salah satu dari banyak INFLASI HUKUM yang terjadi pada bangsa kita ini. Sebagaimana inflasi uang, dulu uang pecahan Rp 1.000,- sudah bisa beli nasi satu bungkus, sekarang perlu uang lebih dari Rp 10.000,-.
INFLASI HUKUM kurang lebih begitu, sekarang para legislator dan pemerintah begitu mudah membuat banyak pelanggaran di golongkan sebagaimana tindak PIDANA (KEJAHATAN) misal :
1. Seorang dokter asli yang belum atau terlambat mengurus izin praktek saja, di ancam PIDANA 3,5 tahun. Padahal ini hanya soal administrasi belaka.
2. Anda mau usaha kecil kecilan dan baru bisa membayar upah buruh taruhlah Rp 1,5 jt sebulan,sedangkan besaran Upah Minimumnya RP 2,2 juta, anda bisa di ancam PIDANA 1 – 4 tahun, ini bisa mengancam pemilik warteg, penjual soto, toko kecil-kecilan, dll.
3. Anda punya usaha lalu bangkrut dan tidak bisa membayar pesangon karyawanya, maka anda bisa di ancam pidana 1 – 5 tahun, dll.
INFLASI HUKUM dapat di artikan begitu mudah membuat aturan sangksi pidana hukum, namun aturan hukum tersebut jarang atau hampir tidak pernah di laksanakan. Perlu terobosan cara menghukum yang lebih efesien dan terwujud tujuan dari pemidanaan yaitu adanya kesadaran dan tanggungjawab dampak.
Hukum kita pada umumnya adalah warisan dari Belanda, dan Belanda adalah warisan dari Perancis saat NAPOLEON pernah menjajah Belanda. Kiblat Hukum umumnya ada 2 golongan yaitu
1. Eropa Kontinental : Kitab hukumnya di kodifikasi
2. Anglo Saxon : Merujuk pada keputusan hakim sebelumnya dan adanya juri.
Saya pribadi berpandangan sudah saatnya Republik yang sudah lebih dari 65 tahun merdeka, untuk membangun hukum yang menyerap banyak sumber baik kearifan lokal, hukum agama yang positive dan bersifat universal dll.
Merujuk pada hukum sistem ANGLO SAXON di kenal istilah “final mediation” oleh juri, dan merujuk hukum islam di kenal istilah “ampunan dari keluarga korban”, yang artinya hukum penjara bisa di hindarkan bila ada ampunan dari keluarga korban.
Marilah bangsa Indonesia ini mulai berkreasi bahwa menghukum itu tidak harus masuk penjara, bisa kerja sosial, bisa membayar denda, dan lain sebagainya yang penting tujuan adanya hukum yaitu kesadaran dan ketertiban masyarakat bisa terwujud, dan manfaat dari semua sudut pandang bisa terwujud lebih baik.
Pada moment ini, perlu di pikirkan bila pelaku kecelakaan lalu lintas bisa di hukum dengan alternative lain tersebut.
Terkait dengan Rasyid, yang kebetulan anaknya pejabat tinggi negara ini, saya pribadi memandang khasus ini perlu di selesaikan sebagaimana bila terjadi pada masyarakat umumnya. Bila seorang masyarakat biasa yg mengalami kecelakaan lalu dia di tahan, ya Rasyid juga perlu di tahan, dan bila masyarakat biasa sering diupayakan jalur damai untuk menyelesaikan persoalan kecelakaan lalu lintas di luar pengadilan sehinga masyarakat biasa juga bisa terhindar dari penjara, maka Rasyid juga diberi kesempatan yang sama.
Dalam era reformasi dan kebebasan informasi, seringkali suatu khasus yg dialami masyarakat biasa sangat mudah diselesaikan, namun sangat rumit di selesaikan bila menimpa pejabat tinggi atau orang-orang ternama. TV dan media berperan penting untuk memperpanjang bahasan suatu topik kejadian, ini bisa dimaklumi bagi media BAD NEWS is GOOD NEWS.
Andai Rasyid adalah anaknya orang biasa, saya yakin seyakinya, kejadian ini hanya 1 atau 2x nongol diberitakan di TV, dan khasus pertangungjawaban hukumnya akan dengan mudah selesai baik lewat pengadilan atau di luar pengadilan, sepanjang Rasyid bertanggungjawab dan berempati dengan baik.
Hai para ahli hukum Prof Yusril, Prof Mahfud, Prof. Jimly, dll. Saya berharap banyak kepakaran bapak-bapak, bisa mendobarak dan mereformasi hukum agar bisa lebih efesien dan tepat guna.
MyMind, 7 Januari 2013
By Uce Prasetyo (Sangatta)

Sabtu, 05 Januari 2013

Dahlan Iskan kecelakaan di Magetan


Magetan (ANTARA News) -
Mobil listrik Tucuxi, milik Dahlan Iskan yang sedang menjalani tes tempuh jalan jarak jauh dari Solo, Jawa Tengah, menuju Surabaya mengalami kecelakaan di Desa Ngerong, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Sabtu.
Kapolres Magetan AKBP Agus Santosa menyatakan Menteri BUMN Dahlan Iskan selamat. (KR-SAS)
Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2013http://img.antaranews.com/new/2012/12/small/20121221mobil-buatan-indonesia1.jpg

Minggu, 09 Desember 2012

Keutamaan Ikhlas


1. Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud)
2. Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak memandang postur tubuhmu dan tidak pula pada kedudukan maupun harta kekayaanmu, tetapi Allah memandang pada hatimu. Barangsiapa memiliki hati yang shaleh maka Allah menyukainya. Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah yang paling bertakwa. (HR. Ath-Thabrani dan Muslim)
3. Barangsiapa memurkakan (membuat marah) Allah untuk meraih keridhaan manusia maka Allah murka kepadanya dan menjadikan orang yang semula meridhoinya menjadi murka kepadanya. Namun barangsiapa meridhokan Allah (meskipun) dalam kemurkaan manusia maka Allah akan meridhoinya dan meridhokan kepadanya orang yang pernah memurkainya, sehingga Allah memperindahnya, memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam pandanganNya. (HR. Ath-Thabrani)
4. Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia. Barangsiapa memperbaiki apa yang dirahasiakannya maka Allah akan memperbaiki apa yang dilahirkannya (terang-terangan). (HR. Al Hakim)
5. Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, seseorang melakukan amal (kebaikan) dengan dirahasiakan dan bila diketahui orang dia juga menyukainya (merasa senang)." Rasulullah Saw berkata, "Baginya dua pahala yaitu pahala dirahasiakannya dan pahala terang-terangan." (HR. Tirmidzi)
6. Agama ialah keikhlasan (kesetiaan atau loyalitas). Kami lalu bertanya, "Loyalitas kepada siapa, ya Rasulullah?" Rasulullah Saw menjawab, "Kepada Allah, kepada kitabNya (Al Qur'an), kepada rasulNya, kepada penguasa muslimin dan kepada rakyat awam." (HR. Muslim)
Penjelasan: Artinya, patuh dan taat kepada penguasa dan pemerintahan (muslim) dan setia kepada rakyat dengan tidak merugikan mereka atau mengambil (mengurangi) hak mereka.
Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press

Minggu, 02 Desember 2012

Ali Bin Abu Thalib ra


Hadis riwayat Saad bin Abu Waqqash ra., ia berkata:
Rasulullah saw. berkata kepada Ali bin Abu Thalib: Sesungguhnya kedudukanmu terhadapku adalah seperti kedudukan Harun terhadap Musa, hanya saja tidak ada seorang nabi pun sesudahku. (Shahih Muslim No.4418)
Hadis riwayat Sahal bin Saad ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda ketika menjelang perang Khaibar: Sungguh akan aku berikan bendera ini kepada seorang lelaki yang akan Allah berikan kemenangan di bawah pimpinannya yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan juga dicintai Allah dan Rasul-Nya. Pada malam hari orang-orang ramai membicarakan tentang siapakah orang yang akan diberi bendera itu. Keesokan paginya mereka menghadap Rasulullah saw. dan semua berharap agar diberi bendera tersebut. Rasulullah saw. bertanya: Di manakah Ali bin Abu Thalib? Mereka menjawab: Dia sedang mengeluhkan kedua matanya yang sakit, wahai Rasulullah. Lalu mereka diutus untuk menemuinya dan mengajaknya ke hadapan beliau. Kemudian Rasulullah saw. meludahi kedua matanya serta mendoakan sehingga sembuh seakan-akan tidak merasakan sakit sebelumnya. Selanjutnya Rasulullah saw. memberikan bendera itu kepadanya. Ali berkata: Wahai Rasulullah, aku akan memerangi mereka sampai mereka seperti kita. Rasulullah saw. bersabda: Berangkatlah dengan tenang sampai kamu tiba di daerah mereka, lalu ajaklah mereka untuk memeluk Islam serta beritahukan kepada mereka hak Allah yang diwajibkan atas mereka. Demi Allah, Allah memberikan petunjuk kepada seseorang melalui kamu adalah lebih baik bagimu daripada memiliki unta merah (harta orang arab yang paling berharga). (Shahih Muslim No.4423)
Hadis riwayat Salamah bin Akwa` ra., ia berkata:
Pada perang Khaibar, Ali bin Abu Thalib ra. telah tertinggal dari pasukan Nabi saw. karena terserang penyakit mata. Dia berkata: Aku tertinggal dari pasukan Rasulullah saw. Akhirnya Ali keluar menyusul Rasulullah saw. Pada waktu sore di mana keesokan paginya Allah memberikan kemenangan kepada pasukan Islam, Rasulullah saw. bersabda: Sungguh akan aku berikan bendera ini atau bendera ini akan dipegang besok oleh seorang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya serta mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mudah-mudahan saja Allah memberikan kemenangan padanya. Tiba-tiba kami bertemu dengan Ali dan hilanglah harapan kami untuk diberi bendera tersebut. Para sahabat berkata: Inilah Ali. Rasulullah saw. lalu memberikan bendera tersebut kepada Ali. Dan akhirnya Allah memberikan kemenangan padanya. (Shahih Muslim No.4424)
Hadis riwayat Sahal bin Saad ra., ia berkata:
Rasulullah saw. mendatangi rumah Fatimah dan tidak menjumpai Ali di dalamnya. Beliau lalu bertanya kepada Fatimah: Di mana putra pamanmu? Fatimah menjawab: Telah terjadi sesuatu antara aku dan dia lalu memarahiku dan keluar sehingga tidak tidur siang di sini. Rasulullah saw. berkata kepada seorang sahabat: Carilah di mana dia! Kemudian dia datang lagi dan berkata: Wahai Rasulullah, Ali sedang tidur di dalam mesjid. Rasulullah saw. lalu mendatanginya sementara Ali tengah berbaring dengan sorban yang terjatuh dari sisinya sehingga mengenai debu. Kemudian Rasulullah saw. membersihkan debu darinya seraya berkata: Bangun wahai Abu Turab! Bangun wahai Abu Turab!. (Shahih Muslim No.4426)

Usman Bin Affan ra.


Hadis riwayat Abu Musa Al-Asy`ari ra., ia berkata:
Tatkala Rasulullah saw. berada dalam salah satu kebun Madinah sedang bersandar dengan menancapkan sebatang kayu antara air dan tanah tiba-tiba datang seseorang yang ingin menemui Rasulullah saw. Beliau bersabda kepada pelayan: Bukakanlah pintu dan sampaikan kepadanya kabar gembira dengan memasuki surga. Orang tersebut ternyata adalah Abu Bakar. Aku pun membukakannya dan menyampaikan kabar gembira tentang surga. Tak lama kemudian datang lagi seseorang minta dibukakan. Rasulullah saw. bersabda: Bukakanlah pintu dan sampaikan kabar gembira kepadanya mengenai surga. Aku beranjak dan ternyata orang tersebut adalah Umar. Aku pun membukakannya dan menyampaikan kabar gembira tentang surga. Kemudian datang lagi seseorang yang juga ingin dibukakan. Kemudian Rasulullah saw. duduk dan bersabda: Bukakanlah pintu dan sampaikanlah kabar gembira tentang surga dengan musibah yang akan menimpa. Aku pun pergi menemui orang itu, ternyata dia adalah Usman bin Affan. Aku bukakan pintu untuknya dan menyampaikan kepadanya berita gembira tentang surga. Usman lalu berkata: Ya Allah, (berilah) kesabaran atau Allah-lah Yang Maha Penolong. (Shahih Muslim No.4416)

Umar Bin Khathab RA


Hadis riwayat Ali ra.:
Ibnu Abbas ra. berkata: Jasad Umar bin Khathab ra. dibaringkan di atas tempat tidurnya kemudian orang-orang mengerumuninya, mereka mendoakan, memuji dan menyalatkan sebelum diangkat (ke kuburnya) dan aku berada di antara mereka. Kemudian dia melanjutkan: Tidak ada yang menarik perhatianku kecuali dengan seorang lelaki yang menarik pundakku dari belakang, maka aku pun menoleh ke arahnya, ternyata dia adalah Ali yang turut berduka cita atas meninggalnya Umar. Kemudian dia berkata: Tidak ada orang yang lebih aku sukai ketika berjumpa dengan Allah dengan seperti amal perbuatannya daripada engkau, mudah-mudahan Allah menempatkanmu bersama dua orang sahabatmu. Dalam hal ini aku sering mendengar Rasulullah saw. bersabda: Saya datang bersama Abu Bakar dan Umar. Aku masuk surga bersama Abu Bakar dan Umar. Dan aku pun keluar bersama Abu Bakar dan Umar. Sungguh aku berharap semoga Allah berkenan mempertemukanmu dengan mereka. (Shahih Muslim No.4402)
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Ketika sedang tidur, aku bermimpi melihat banyak orang sedang berkumpul dengan mengenakan pakaian yang beragam, ada yang menutupi sampai dada dan ada pula yang kurang dari itu, lalu lewatlah Umar bin Khathab dengan pakaian yang ia seret. Mereka bertanya: Bagaimana engkau menakwilkan mimpi itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Agama. (Shahih Muslim No.4403)
Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Dari Rasulullah saw., beliau bersabda: Ketika sedang tidur, aku bermimpi melihat sebuah gelas besar berisi susu dihidangkan kepadaku. Lalu aku meminumnya hingga aku dapat menyaksikannya mengalir ke dalam kuku-kukuku kemudian sisa minumanku aku berikan kepada Umar bin Khathab. Para sahabat bertanya: Bagaimana engkau menakwilkan mimpi itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Itu adalah ilmu. (Shahih Muslim No.4404)
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Ketika sedang tidur, aku bermimpi melihat diriku berada di dekat sebuah sumur tua di mana terdapat sebuah timba. Kemudian aku mengambil air sumur itu sebanyak yang Allah kehendaki. Kemudian dipegang oleh Ibnu Abu Quhafah yang segera mengambil air sebanyak satu atau dua timba tetapi dalam pengambilan airnya terdapat kelemahan dan semoga Allah mengampuninya. Lalu timba tersebut berubah menjadi besar dan segera dipegang oleh Umar bin Khathab ra. dan aku tidak pernah melihat seorang jenius pun dari umat manusia yang dapat mengambil air seperti pengambilan Umar bin Khathab ra. hingga manusia dapat minum dengan puas beserta unta-unta mereka. (Shahih Muslim No.4405)
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku bermimpi melihat diriku seakan-akan sedang mengambil air dengan timba yang berada di atas sebuah sumur tua. Kemudian datang Abu Bakar dan segera mengambil air sebanyak satu atau dua timba dengan pengambilan yang agak lemah, semoga Allah mengampuninya. Kemudian datang Umar dan mengambil air namun tiba-tiba timba tersebut berubah menjadi sebuah timba besar dan aku tidak pernah melihat seorang jenius pun dari umat manusia yang dapat menekuni pekerjaan seperti Umar hingga manusia dapat minum dengan puas dan menggiring unta-unta mereka ke kandang dalam keadaan puas minum. (Shahih Muslim No.4407)
Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Aku masuk ke dalam surga dan melihat di dalamnya terdapat sebuah rumah atau sebuah istana lalu aku bertanya: Milik siapakah istana ini? Mereka menjawab: Milik Umar bin Khathab. Aku bermaksud memasukinya, namun segera teringat olehku kecemburuanmu. Mendengar itu seketika Umar menangis haru dan berkata: Wahai Rasulullah saw., apakah orang seperti engkau dicemburui. (Shahih Muslim No.4408)
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Dari Rasulullah saw. beliau bersabda: Ketika tidur, tiba-tiba aku bermimpi melihat diriku berada di dalam surga dan menyaksikan seorang wanita sedang berwudu di samping sebuah istana. Aku lalu bertanya: Milik siapakah istana ini? Mereka menjawab: Milik Umar bin Khathab. Tiba-tiba saja aku teringat akan kecemburuan Umar. Maka aku pun pergi meninggalkan tempat itu. Lebih lanjut Abu Hurairah ra. mengatakan: Mendengar itu seketika Umar menangis sedang kami semua berada di majlis tersebut bersama Rasulullah saw. kemudian Umar berkata: Demi Allah, wahai Rasulullah, apakah kepada engkau aku cemburu?. (Shahih Muslim No.4409)
Hadis riwayat Saad bin Abu Waqqash ra., ia berkata:
Umar meminta izin untuk menjumpai Rasulullah saw. di mana ketika itu ada beberapa orang wanita Quraisy bersama beliau sedang mengajak beliau bicara dan menanyakan banyak (persoalan) dengan suara keras. Ketika Umar minta izin masuk, mereka bergegas beranjak saling mendahului ke arah tabir. Rasulullah saw. mengizinkan Umar untuk masuk sambil tersenyum. Lalu Umar berkata: Semoga Allah selalu menyenangkanmu wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Aku terheran melihat perilaku wanita-wanita yang tadi berada di sisiku, ketika mendengar suaramu, mereka bergegas menuju ke balik tabir. Umar menyela: Engkaulah orang yang paling berhak untuk ditakuti, wahai Rasulullah. Kepada wanita-wanita tadi Umar berkata: Wahai wanita-wanita yang menjadi musuh dirinya sendiri, apakah kalian merasa takut kepadaku dan tidak merasa takut kepada Rasulullah saw.? Mereka menjawab: Ya, karena kamu lebih kasar dan lebih keras daripada beliau. Rasulullah saw. kemudian bersabda: Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, setan tidak akan pernah menemuimu sedang menelusuri suatu jalan kecuali ia akan menelusuri jalan selain jalanmu. (Shahih Muslim No.4410)
Hadis riwayat Umar ra., ia berkata:
Aku bertepatan dengan kehendak Tuhanku dalam tiga perkara; dalam perkara makam Ibrahim, dalam perkara hijab dan dalam perkara tawanan perang Badar. (Shahih Muslim No.4412)
Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata:
Ketika Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal dunia, anaknya Abdullah bin Abdullah datang menemui Rasulullah saw. meminta agar Rasulullah saw. berkenan memberikan pakaiannya untuk digunakan mengkafani jenazah ayahnya. Beliau memenuhi permintaannya tersebut. Abdullah juga meminta agar beliau berkenan menyalatkan jenazah ayahnya. Rasulullah saw. pun berdiri hendak menyalatkan jenazah atasnya lalu Umar ikut berdiri dan menarik pakaian Rasulullah saw. seraya berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menyalatkan jenazah ayahnya padahal Allah telah melarangmu untuk menyalatkannya? Rasulullah saw. bersabda: Sebenarnya Allah telah memberikan pilihan kepadaku lalu beliau membaca ayat: Kamu memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampunan bagi mereka adalah sama saja. Kendatipun kamu mohonkan ampunan bagi mereka berulang sampai tujuh puluh kali. Aku akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali. Umar berkata: Abdullah bin Ubay bin Salul itu orang munafik. Rasulullah saw. tetap menyalatkan jenazah bukan orang Islam tersebut. Saat itulah Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menurunkan firman-Nya: Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan jenazah seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di atas kuburnya. (Shahih Muslim No.4413)

ABU BAKAR SIDIK RA


Di antara keutamaan Abu Bakar Sidik ra.
Hadis riwayat Abu Bakar Sidik ra., ia berkata:
Aku melihat kaki orang-orang musyrik di atas kepala kami tatkala kami berada dalam gua. Aku berkata: Wahai Rasulullah kalau saja salah seorang dari mereka melihat ke kedua kakinya sendiri, niscaya dia akan melihat kita yang berada di bawahnya. Beliau bersabda: Wahai Abu Bakar, apa dugaanmu yang bakal terjadi pada dua orang di mana yang ketiganya adalah Allah. (Shahih Muslim No.4389)
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
Bahwa Rasulullah saw. pada satu hari berada di atas mimbar lalu beliau bersabda: Ada seorang hamba yang diberikan pilihan oleh Allah antara Allah akan memberinya kemewahan dunia atau memberi sesuatu yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu memilih sesuatu yang ada di sisi-Nya. Setelah itu Abu Bakar tampak menangis kemudian berkata: Kami bersedia menebus engkau dengan bapak dan ibu kami. Abu Said Al-Khudri ra. mengatakan: Rasulullah saw. lah hamba yang telah diberikan pilihan itu. Dan Abu Bakar sendiri yang memberitahukan hal itu kepada kami. Selanjutnya Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya orang yang paling setia kepadaku baik dalam hartanya maupun dalam persahabatannya adalah Abu Bakar. Kalau saja aku boleh mengangkat seorang khalil (kekasih), niscaya aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi dia adalah saudaraku di dalam Islam. Sungguh tidak akan diciptakan pada mesjid ini sebuah pintu kecil pun kecuali hal itu memang milik Abu Bakar. (Shahih Muslim No.4390)
Hadis riwayat Amru bin Ash ra.:
Bahwa Rasulullah saw. pernah mengutusnya untuk memimpin pasukan tentara Zatussalasil. Aku menemui beliau dan bertanya: Siapakah orang yang paling Anda cintai? Beliau menjawab: Aisyah. Aku bertanya: Dari kaum lelaki? Beliau menjawab: Ayah Aisyah. Aku bertanya: Lalu siapa? Beliau menjawab: Umar. Setelah itu beliau menyebutkan nama beberapa orang sahabat yang lain. (Shahih Muslim No.4396)
Hadis riwayat Jubair bin Muth`im ra.:
Dari Muhammad bin Jubair bin Muth`im dari ayahnya bahwa seorang wanita pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah saw. kemudian beliau menyuruh wanita itu supaya kembali lagi kepada beliau di lain waktu. Lalu wanita itu bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana menurut engkau kalau aku nanti datang dan tidak menjumpaimu. Bapakku berkata: Tampaknya wanita itu bermaksud kematian. Beliau bersabda: Jika kamu nanti tidak menjumpaiku, maka temuilah Abu Bakar. (Shahih Muslim No.4398)
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Sewaktu Rasulullah saw. sakit, beliau berkata kepadaku: Tolong panggilkan Abu Bakar dan saudara lelakimu sehingga aku dapat menulis surat (wasiat). Sesungguhnya aku merasa khawatir terhadap orang yang ambisius yang mengatakan: Aku adalah orang yang lebih berhak sementara Allah dan orang-orang mukmin enggan kecuali Abu Bakar. (Shahih Muslim No.4399)
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Ketika seorang lelaki sedang menuntun seekor sapi miliknya yang sedang memikul beban, tiba-tiba sapi tersebut menoleh kepadanya dan berkata: Sesungguhnya aku diciptakan bukan untuk ini, melainkan untuk membajak tanah pertanian. Lalu para sahabat berseru: Maha Suci Allah! Karena merasa terheran-heran dan terkejut seekor sapi dapat berbicara. Rasulullah saw. bersabda: Tetapi sesungguhnya aku, Abu Bakar dan Umar mempercayainya. Seterusnya Abu Hurairah ra. mengatakan: Rasulullah saw. bersabda: Ketika seorang penggembala sedang menggembalakan kambing-kambingnya, tiba-tiba ada seekor srigala menerkam dan membawa lari salah satu kambingnya. Lalu penggembala tadi mengejar srigala itu dan berhasil menyelamatkan kambingnya. Tiba-tiba saja srigala menoleh kepadanya dan berkata: Siapakah yang akan melindungi kambing-kambing itu pada hari binatang buas yaitu suatu hari yang tidak terdapat seorang penggembalapun selain aku? Lalu para sahabat kembali berseru: Maha Suci Allah! Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku, Abu Bakar dan Umar mempercayainya. (Shahih Muslim No.4401

Mengetahui dua rakaat salat yang pernah dilakukan oleh Nabi saw. sesudah Asar


Hadis riwayat Ummu Salamah ra.:
Dari Kuraib bahwa Abdullah bin Abbas dan Abdurrahman bin Azhar dan Miswar bin Makhramah mengutusnya untuk menemui Aisyah, istri nabi. Mereka berkata: Ucapkan salam kami kepadanya dan tanyakan kepadanya tentang salat dua rakaat sesudah Asar. Katakan pula kepadanya bahwa kami mendengar kabar bahwa ia juga melakukan salat dua rakaat sesudah Asar tersebut. Padahal yang kami dengar, Rasulullah saw. melarang kami melakukannya. Kata Ibnu Abbas: Waktu itu aku bersama Umar bin Khathab segera beranjak meninggalkan tempat untuk menjauh. Kemudian cerita Kuraib: Aku lalu menemui Aisyah dan menyampaikan apa yang mereka pesankan padaku. Aisyah menjawab: Tanyakan saja kepada Ummu Salamah Aku lalu pulang menemui orang-orang yang menyuruhku tadi dan aku beritahu apa jawaban Aisyah. Mereka kemudian menyuruhku menemui Ummu Salamah untuk menanyakan hal yang sama. Ummu Salamah menjawab: Aku memang pernah mendengar Rasulullah saw. melarangnya. Namun kemudian aku juga pernah melihat beliau melakukannya. Waktu itu beliau baru saja selesai melakukan salat Asar. Lalu beliau masuk ke rumah yang pada saat itu aku sedang bersama beberapa wanita dari bani Haram golongan Ansar. Beliau lalu melakukan salat dua rakaat tersebut. Aku lalu menyuruh seorang jariyah untuk berdiri di samping beliau untuk menanyakan dua rakaat yang beliau lakukan itu, padahal beliau pernah melarangnya. Tetapi aku sudah pesan kepada jariyah yang aku suruh tadi, kalau beliau memberikan isyarat dengan tangannya maka tunggulah. Jariyah itu pun melaksanakan perintahku, dan ternyata beliau memang memberikan isyarat dengan tangannya. Maka ia pun bersabar. Ketika selesai, beliau bersabda: Wahai putri Abu Umayah. Engkau telah menanyakan tentang salat dua rakaat sesudah Asar yang aku lakukan tadi. Ketahuilah, sesungguhnya tadi beberapa orang dari suku Abdul Qais datang kepadaku mengurus kaumnya yang masuk Islam, sehingga aku terlambat melakukan dua rakaat sesudah salat Zuhur. Maka itu tadi adalah dua rakaat yang belum sempat aku lakukan itu. (Shahih Muslim No.1377)
Hadis riwayat Aisyah ra.:
Dari Abu Salamah ra. bahwa ia bertanya kepada Aisyah ra. tentang salat dua rakaat (salat sunat) yang dilakukan Rasulullah saw. sesudah salat Asar. Aisyah menjawab: Biasanya beliau melakukannya sebelum Asar, kemudian karena ia sibuk (tidak sempat) atau lupa, maka ia melakukannya setelah salat Asar. Lalu beliau menetapkannya. Kebiasaan beliau adalah jika melakukan salat tertentu (sunat), beliau menetapkannya. (Shahih Muslim No.1378)

Ber Do'a


Dorongan berdoa dan berzikir pada akhir malam dan pengabulan doa pada waktu itu
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tuhan kita Yang Maha Suci lagi Maha Luhur setiap malam turun ke langit dunia ketika malam tinggal sepertiga terakhir. Dia berfirman: Barang siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan kabulkan permohonannya. Dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya. (Shahih Muslim No.1261)
Dorongan melakukan salat malam bulan Ramadan, yaitu salat tarawih
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang mendirikan salat malam bulan Ramadan karena iman dan mengharap rela Allah, maka ia akan diampuni dosanya yang telah lalu. (Shahih Muslim No.1266)
Hadis riwayat Aisyah ra.:
Bahwa pada suatu malam Rasulullah saw. salat di mesjid, lalu datang beberapa orang ikut salat bersama beliau, kemudian pada malam selanjutnya, manusia semakin banyak yang ikut salat bersama beliau. Kemudian pada malam yang ketiga atau keempat banyak sekali orang yang berkumpul menunggu Rasulullah saw., tetapi Rasulullah saw. tidak keluar menemui mereka. Pada pagi harinya, beliau bersabda: Aku melihat apa yang kalian lakukan. Sebenarnya tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar salat bersama kalian kecuali karena aku khawatir kalau hal ini akan diwajibkan atas kalian. Perawi mengatakan: Itu terjadi pada bulan Ramadan. (Shahih Muslim No.1270)